Tuesday, March 19, 2013

Seminar - Tes 2 (nanti dilanjut lagi lah)


BAB II
2.1 Sherlock Holmes dan Karya Pendahulunya
            Auguste Dupin ciptaan Edgar Allen Poe diyakini sebagai tokoh detektif pertama yang pernah diciptakan. Tokoh tersebut menginspirasi penulis-penulis cerita detektif generasi selanjutnya, seperti Hercules Poirot karya Agatha Christie dan Sherlock Holmes karya Sir Arthur Conan Doyle[1].
            Terdapat beberapa kesamaan di antara kisah Sherlock Holmes dan Auguste Dupin, yang mungkin menandakan terinspirasinya Doyle oleh Poe. Contohnya adalah tokoh sidekick dan protagonis yang tinggal bersama menyewa satu rumah (dalam the Murders in the Rue Morgue dan a Study in Scarlet) dan tokoh sidekick yang menulis jurnal mengenai tokoh protagonist (the Mistery of Marie Roget dan Sign of Four).
            Tokoh sidekick berperan sebagai narator di kedua cerita. Dalam cerita Sherlock Holmes, Dr. John Watson berperan sebagai narator. Namun, dalam Auguste Dupin, narator adalah teman dari Auguste Dupin, namun perannya tidak diceritakan.
2.2       Kelas secara naratif
2.2.1    Sidekick dan Protagonis
            Cara tokoh John Watson menarasikan gerak-gerik dan tingkah Sherlock Holmes menggambarkan peran Watson yang lebih terlihat seperti “pelengkap” dari Holmes, karena tokoh yang lebih banyak mengambil peran dalam cerita-cerita yang dibawakan Watson adalah Holmes. Menurut saya, tokoh Watson sendiri pun digambarkan memang merasa seperti itu. Misalnya, dalam Sign of Four, ketika Miss Mary Morstan datang menemui Sherlock Holmes, tokoh Watson merasa dirinya kikuk dan mengganggu pembicaraan antara detektif dan klien tersebut. Ketika Mary Morstan menunjukkan surat misterius dan membacakan bahwa ia boleh membawa dua orang teman, Watson pun masih merasa tidak harus ikut dan baru mau diajak setelah diiyakan oleh Sherlock Holmes dan Mary Morstan. Oleh karena itu, saya melihat semacam hubungan sidekick dan protagonist dalam hubungannya dengan penyelesaian. Hubungan inilah yang saya maksud sebagai perbedaan kelas naratif di antara kedua tokoh tersebut.
Fungsi sidekick di dalam cerita detektif ini, menurut saya cukup vital. Noelle Hay dalam artikelnya, “Evolution of a Sidekick”, menjelaskan bahwa sidekick dalam cerita berfungsi sebagai semacam penghubung dari tokoh protagonis kepada pembaca, atau tokoh yang lebih dapat dibayangkan oleh pembaca sebagai diri pembaca sendiri. Dalam konteks ini, saya berpendapat bahwa tokoh sidekick memiliki karakteristik yang lebih dapat berhubungan sosial daripada tokoh protagonis. Selain itu, menurutnya juga, tokoh sidekick memberikan pemahaman kepada pembaca bahwa tokoh protagonis di dalam suatu cerita adalah karakter yang manusiawi. Misalnya, Sherlock Holmes, selain digambarkan sebagai karakter yang jenius, juga digambarkan sebagai karakter yang dingin, kaku, serius, dan tidak menyenangkan. Namun, dialog-dialog antara Watson dan Holmes dapat membuat pembaca memahami sisi manusiawi dari Holmes.
Strategi ini berbeda dengan strategi yang digunakan oleh Edgar Allen Poe, misalnya dalam “The Black Cat”. Dalam The Black Cat, narator adalah tokoh utama. Karena ketidaklaziman cara berpikir dan cara menarik kesimpulan dari  tokoh utama, pembaca langsung dihadapkan dengan satu cara berpikir yang aneh. Sepertinya hal ini mirip dengan teknik yang dikenalkan oleh Viktor Schklovsky di Art of Poetry. Teknik ini adalah teknik defamiliarization. Namun, di serial Sherlock Holmes, peran sidekick justru untuk memfamiliarisasikan kasus-kasus yang terjadi.
Jean-Paul Sartre dalam tulisannya, Being and Nothingness mengemukakan dua keberadaan, yaitu keberadaan secara sadar (being-for-itself) dan keberadaan secara tidak sadar (being-in-itself). Jika membicarakan hubungan keberadaan dalam konteks kesadaran dan ketidaksadaran, tentu saja ini mengacu pada pembentukan konsep diri (self). Dalam pembentukan diri menurut Sartre tersebut, muncul satu keberadaan lagi yang menimbulkan pertanyaan; bagaimana keberadaan diri tanpa orang lain (others)? Konsep being-for-others ini mewakili perbedaan kelas antara sidekick dan protagonist, yang kemudian akan saya sebutkan sebagai kelas naratif, dalam beberapa karya dari serial Sherlock Holmes. Konsep diri dalam serial Sherlock Holmes terbentuk dengan hubungan satu karakter dengan karakter lainnya, di mana dalam hubungan antar karakter tersebut terdapat ketidakseimbangan. Karakter Watson dalam serial Sherlock Holmes mengindikasikan being-for-other(s), di mana other yang dimaksud adalah Sherlock Holmes.
2.2.2    Subjek dan Objek.
Ada satu ketidakjelasan dalam Sherlock Holmes, yaitu mengenai subjek dan objek. Penggunaan kata I pada narator menjelaskan bahwa novel ini menggunakan sudut pandang orang pertama tunggal. Ini menandakan bahwa I adalah subjek.
Konsep diferensiasi Saussure berlaku dalam argument ini. Adanya kata “I” atau “saya” tidak berpengaruh tanpa adanya pembeda. Pembeda tersebut dalam konteks kelas naratif yang ada di serial Sherlock Holmes ini adalah “you” dalam dialog antar tokoh dan “he” atau “his” dalam narasi yang dibawakan oleh Watson. Kedua pembeda tersebut merujuk kepada Sherlock Holmes.
Sementara itu, konsep kata I sebagai subjek ini dikemukakan oleh Emile Benveniste sebagaimana yang dikutip Catherine Belsey dalam esainya, Constructing the Subject: Deconstructing the Text. Menurut Benveniste yang merujuk pada konsep diferensiasi Saussure tersebut, “Language is possible only because each speaker sets himself up as a subject by referring to himself as I in his discourse”.
Penggunaan kata I dalam seluruh serial Sherlock Holmes menunjukkan bahwa narator adalah subjek. Narator adalah karakter utama jika merujuk kutipan Benveniste tersebut. Namun, masalah baru muncul ketika membicarakan konsep objek yang dikemukakan oleh Spivak. Spivak mengutip Foucault dan Deleuze dalam esainya, “Can the Subaltern Speak?”
 …the oppressed, if given the chance (the problem of representation cannot be bypassed here), and on the way to solidarity through alliance politics (a Marxist thematic is at work here) can speak and know their conditions. Spivak, 1988: 27
Kata “the oppressed” dalam kutipan tersebut menurut saya satu konteks dengan Watson dalam hubungannya dengan Sherlock Holmes. Watson seolah memiliki suara karena hubungannya yang dekat dengan Holmes dan itu pun berbicara mengenai Sherlock Holmes. Jadi, tetap saja, jika dihubungkan dengan esai Spivak, Watson berperan sebagai objek.
2.3       Transaksi Kepentingan antar Tokoh
2.4       Penyelesaian Kasus sebagai Komoditi




[1]  Dawn B. Sova. (2001). Edgar Allan Poe A to Z: The Essential Reference to His Life and Work. New York: Checkmark Books.


No comments:

Post a Comment