BAB II
2.1 Sherlock Holmes dan
Karya Pendahulunya
Auguste Dupin ciptaan Edgar Allen Poe diyakini sebagai
tokoh detektif pertama yang pernah diciptakan. Tokoh tersebut menginspirasi
penulis-penulis cerita detektif generasi selanjutnya, seperti Hercules Poirot
karya Agatha Christie dan Sherlock Holmes karya Sir Arthur Conan Doyle[1].
Terdapat beberapa kesamaan di antara kisah Sherlock
Holmes dan Auguste Dupin, yang mungkin menandakan terinspirasinya Doyle oleh
Poe. Contohnya adalah tokoh sidekick dan protagonis yang tinggal bersama
menyewa satu rumah (dalam the Murders in the Rue Morgue dan a Study in Scarlet)
dan tokoh sidekick yang menulis jurnal mengenai tokoh protagonist (the Mistery
of Marie Roget dan Sign of Four).
Tokoh sidekick berperan sebagai narator di kedua cerita.
Dalam cerita Sherlock Holmes, Dr. John Watson berperan sebagai narator. Namun,
dalam Auguste Dupin, narator adalah teman dari Auguste Dupin, namun perannya
tidak diceritakan.
2.2 Kelas secara naratif
2.2.1 Sidekick dan Protagonis
Cara tokoh John Watson menarasikan gerak-gerik dan
tingkah Sherlock Holmes menggambarkan peran Watson yang lebih terlihat seperti
“pelengkap” dari Holmes, karena tokoh yang lebih banyak mengambil peran dalam
cerita-cerita yang dibawakan Watson adalah Holmes. Menurut saya, tokoh Watson
sendiri pun digambarkan memang merasa seperti itu. Misalnya, dalam Sign of
Four, ketika Miss Mary Morstan datang menemui Sherlock Holmes, tokoh Watson
merasa dirinya kikuk dan mengganggu pembicaraan antara detektif dan klien tersebut.
Ketika Mary Morstan menunjukkan surat misterius dan membacakan bahwa ia boleh
membawa dua orang teman, Watson pun masih merasa tidak harus ikut dan baru mau
diajak setelah diiyakan oleh Sherlock Holmes dan Mary Morstan. Oleh karena itu,
saya melihat semacam hubungan sidekick dan protagonist dalam hubungannya dengan
penyelesaian. Hubungan inilah yang saya maksud sebagai perbedaan kelas naratif
di antara kedua tokoh tersebut.
Fungsi
sidekick di dalam cerita detektif ini, menurut saya cukup vital. Noelle Hay
dalam artikelnya, “Evolution of a Sidekick”, menjelaskan bahwa sidekick dalam
cerita berfungsi sebagai semacam penghubung dari tokoh protagonis kepada
pembaca, atau tokoh yang lebih dapat dibayangkan oleh pembaca sebagai diri
pembaca sendiri. Dalam konteks ini, saya berpendapat bahwa tokoh sidekick
memiliki karakteristik yang lebih dapat berhubungan sosial daripada tokoh
protagonis. Selain itu, menurutnya juga, tokoh sidekick memberikan pemahaman
kepada pembaca bahwa tokoh protagonis di dalam suatu cerita adalah karakter
yang manusiawi. Misalnya, Sherlock Holmes, selain digambarkan sebagai karakter
yang jenius, juga digambarkan sebagai karakter yang dingin, kaku, serius, dan
tidak menyenangkan. Namun, dialog-dialog antara Watson dan Holmes dapat membuat
pembaca memahami sisi manusiawi dari Holmes.
Strategi
ini berbeda dengan strategi yang digunakan oleh Edgar Allen Poe, misalnya dalam
“The Black Cat”. Dalam The Black Cat, narator adalah tokoh utama. Karena
ketidaklaziman cara berpikir dan cara menarik kesimpulan dari tokoh utama, pembaca langsung dihadapkan
dengan satu cara berpikir yang aneh. Sepertinya hal ini mirip dengan teknik
yang dikenalkan oleh Viktor Schklovsky di Art of Poetry. Teknik ini adalah
teknik defamiliarization. Namun, di serial Sherlock Holmes, peran sidekick
justru untuk memfamiliarisasikan kasus-kasus yang terjadi.
Jean-Paul
Sartre dalam tulisannya, Being and Nothingness mengemukakan dua keberadaan,
yaitu keberadaan secara sadar (being-for-itself) dan keberadaan secara tidak
sadar (being-in-itself). Jika membicarakan hubungan keberadaan dalam konteks
kesadaran dan ketidaksadaran, tentu saja ini mengacu pada pembentukan konsep
diri (self). Dalam pembentukan diri menurut Sartre tersebut, muncul satu
keberadaan lagi yang menimbulkan pertanyaan; bagaimana keberadaan diri tanpa
orang lain (others)? Konsep being-for-others ini mewakili perbedaan kelas
antara sidekick dan protagonist, yang kemudian akan saya sebutkan sebagai kelas
naratif, dalam beberapa karya dari serial Sherlock Holmes. Konsep diri dalam
serial Sherlock Holmes terbentuk dengan hubungan satu karakter dengan karakter
lainnya, di mana dalam hubungan antar karakter tersebut terdapat
ketidakseimbangan. Karakter Watson dalam serial Sherlock Holmes mengindikasikan
being-for-other(s), di mana other yang dimaksud adalah Sherlock Holmes.
2.2.2 Subjek dan Objek.
Ada
satu ketidakjelasan dalam Sherlock Holmes, yaitu mengenai subjek dan objek.
Penggunaan kata I pada narator menjelaskan bahwa novel ini menggunakan sudut
pandang orang pertama tunggal. Ini menandakan bahwa I adalah subjek.
Konsep
diferensiasi Saussure berlaku dalam argument ini. Adanya kata “I” atau “saya”
tidak berpengaruh tanpa adanya pembeda. Pembeda tersebut dalam konteks kelas
naratif yang ada di serial Sherlock Holmes ini adalah “you” dalam dialog antar
tokoh dan “he” atau “his” dalam narasi yang dibawakan oleh Watson. Kedua
pembeda tersebut merujuk kepada Sherlock Holmes.
Sementara
itu, konsep kata I sebagai subjek ini dikemukakan oleh Emile Benveniste
sebagaimana yang dikutip Catherine Belsey dalam esainya, Constructing the
Subject: Deconstructing the Text. Menurut Benveniste yang merujuk pada konsep
diferensiasi Saussure tersebut, “Language
is possible only because each speaker sets himself up as a subject by referring
to himself as I in his discourse”.
Penggunaan
kata I dalam seluruh serial Sherlock Holmes menunjukkan bahwa narator adalah
subjek. Narator adalah karakter utama jika merujuk kutipan Benveniste tersebut.
Namun, masalah baru muncul ketika membicarakan konsep objek yang dikemukakan
oleh Spivak. Spivak mengutip Foucault dan Deleuze dalam esainya, “Can the
Subaltern Speak?”
…the
oppressed, if given the chance (the problem of representation cannot be
bypassed here), and on the way to solidarity through alliance politics (a
Marxist thematic is at work here) can speak and know their conditions.
Spivak, 1988: 27
Kata
“the oppressed” dalam kutipan tersebut menurut saya satu konteks dengan Watson
dalam hubungannya dengan Sherlock Holmes. Watson seolah memiliki suara karena
hubungannya yang dekat dengan Holmes dan itu pun berbicara mengenai Sherlock
Holmes. Jadi, tetap saja, jika dihubungkan dengan esai Spivak, Watson berperan
sebagai objek.
2.3 Transaksi Kepentingan antar Tokoh
2.4 Penyelesaian Kasus sebagai Komoditi
[1] Dawn B. Sova. (2001). Edgar Allan Poe A to Z: The
Essential Reference to His Life and Work. New York: Checkmark Books.