Monday, January 14, 2013

Kelas Naratif dan Transaksi Kepentingan dalam Karya Sir Arthur Conan Doyle

Nama   : Dina Syahrani Vionetta
NPM   : 180410100199

Kelas Naratif dan Transaksi Kepentingan dalam Karya Sir Arthur Conan Doyle
“Three times a day for many months I had witnessed this performance, but custom had not reconciled my mind to it. On the contrary, from day to day I had become more irritable at the sight, and my conscience swelled nightly within me at the thought that I had lacked the courage to protest. Again and again I had registered a vow that I should deliver my soul upon the subject; but there was that in the cool, nonchalant air of my companion which made him the last man with whom one would care to take anything approaching to a liberty. His great power, his masterly manner, and the experience which I had of his many extraordinary qualities, all made me diffident and backward in crossing him.”
Hal pertama yang saya lihat dari beberapa novel Sherlock Holmes karya Doyle adalah posisi Holmes dari sudut pandang Watson selaku narator. Seperti narasi di atas, Sherlock Holmes digambarkan sebagai sosok yang misterius dan jenius, melebihi kecerdasan manusia di atas rata-rata. Suara narator yang banyak memposisikan Sherlock Holmes sebagai sosok yang superior jika dibandingkan dengan dirinya, bahkan memposisikan dirinya sebagai sosok yang tidak lebih hebat daripada Holmes, membuat saya menyadari bahwa ada semacam perbedaan derajat atau perbedaan kelas di antara Holmes dan Watson. Setidaknya, itulah yang digambarkan oleh suara narator.
Watson lebih terlihat seperti “pelengkap” dari Holmes, karena tokoh yang lebih banyak mengambil peran dalam cerita-cerita yang dibawakan Watson adalah Holmes. Oleh karena itu, saya melihat semacam hubungan sidekick dan protagonis. Hubungan inilah yang saya maksud sebagai perbedaan kelas naratif di antara kedua tokoh tersebut.
Menurut Noelle Hay dalam artikelnya, “Evolution of a Sidekick”, sidekick dalam cerita berfungsi sebagai semacam penghubung dari tokoh protagonis kepada pembaca, atau tokoh yang lebih dapat dibayangkan oleh pembaca sebagai diri pembaca sendiri. Dalam konteks ini, saya berpendapat bahwa tokoh sidekick memiliki karakteristik yang lebih dapat berhubungan sosial daripada tokoh protagonis. Selain itu, menurutnya juga, tokoh sidekick memberikan pemahaman kepada pembaca bahwa tokoh protagonis di dalam suatu cerita adalah karakter yang manusiawi. Misalnya, Sherlock Holmes, selain digambarkan sebagai karakter yang jenius, juga digambarkan sebagai karakter yang dingin, kaku, serius, dan tidak menyenangkan. Namun, dialog-dialog antara Watson dan Holmes dapat membuat pembaca memahami sisi manusiawi dari Holmes.
Strategi ini berbeda dengan strategi yang digunakan oleh Edgar Allen Poe, misalnya dalam “The Black Cat”. Dalam The Black Cat, narator adalah tokoh utama. Karena ketidaklaziman dari cara berpikir dan cara menarik kesimpulan dari  tokoh utama, pembaca langsung dihadapkan dengan satu cara berpikir yang aneh. Sepertinya hal ini mirip dengan teknik yang dikenalkan oleh Viktor Schklovsky di Art of Poetry. Teknik ini adalah teknik defamiliarization. Teknik ini bertujuan untuk membawa pembaca ke sensasi yang seolah-olah tidak pernah dirasakan, padahal sering tapi luput untuk memperhatikan. Namun, di serial Sherlock Holmes, peran sidekick justru untuk memfamiliarisasikan kasus-kasus yang terjadi.
Ada satu diskusi di kelas mengenai Self and Desire yang menurut saya sangat mewakili permasalahan mengenai sidekick ini. Jean-Paul Sartre dalam tulisannya, Being and Nothingness mengemukakan dua keberadaan, yaitu keberadaan secara sadar (being-for-itself) dan keberadaan secara tidak sadar (being-in-itself). Jika membicarakan hubungan keberadaan dalam konteks kesadaran dan ketidaksadaran, tentu saja ini mengacu pada pembentukan konsep diri (self). Dalam pembentukan diri menurut Sartre tersebut, muncul satu keberadaan lagi yang menimbulkan pertanyaan; bagaimana keberadaan diri tanpa orang lain (others)? Konsep being-for-others ini mewakili perbedaan kelas antara sidekick dan protagonist, yang kemudian akan saya sebutkan sebagai kelas naratif, dalam beberapa karya dari serial Sherlock Holmes. Konsep diri dalam serial Sherlock Holmes terbentuk dengan hubungan satu karakter dengan karakter lainnya, di mana dalam hubungan antar karakter tersebut terdapat ketidakseimbangan. Karakter Watson dalam serial Sherlock Holmes mengindikasikan being-for-other(s), di mana other yang dimaksud adalah Sherlock Holmes.
Namun permasalahan Other tersebut berbeda jika saya membahas Subject dan Other dalam “Can The Subaltern Speak?” dari Spivak. Walaupun sedikit banyak Watson juga membahas dirinya sendiri dalam narasi yang dibawakan dalam cerita-cerita Sherlock Holmes, narasi tersebut tetap saja membawakan kisah Sherlock Holmes. Hal ini senada dengan apa yang disebutkan oleh Spivak dalam esainya:
“For the ‘true’ subaltern group, whose identity is its difference, there is no unrepresentable subaltern subject that can know and speak for itself; the intellectual’s solution is not to abstain from representation” (Spivak, 1988: 27)
Jadi, ada ambivalensi mengenai pembentukan Self dan Other di dalam serial Sherlock Holmes ini. Menurut saya, hal ini seperti dua sisi koin. Berbeda memang, namun tidak perlu dipisahkan atau ditentukan mana yang benar dan mana yang salah.
Satu paragraf dari bagian awal novel Sign of Four tersebut juga mengemukakan satu ketidakjelasan, yaitu mengenai subjek dan objek. Penggunaan kata I pada narator menjelaskan bahwa novel ini menggunakan sudut pandang orang pertama tunggal. Ini menandakan bahwa I adalah subjek.
Konsep diferensiasi Saussure berlaku dalam argument ini. Adanya kata “I” atau “saya” tidak berpengaruh tanpa adanya pembeda. Pembeda tersebut dalam konteks kelas naratif yang ada di serial Sherlock Holmes ini adalah “you” dalam dialog antar tokoh dan “he” atau “his” dalam narasi yang dibawakan oleh Watson. Kedua pembeda tersebut merujuk kepada Sherlock Holmes.
Sementara itu, konsep kata I sebagai subjek ini dikemukakan oleh Emile Benveniste sebagaimana yang dikutip Catherine Belsey dalam esainya, Constructing the Subject: Deconstructing the Text. Menurut Benveniste yang merujuk pada konsep diferensiasi Saussure tersebut, “Language is possible only because each speaker sets himself up as a subject by referring to himself as I in his discourse”.
Penggunaan kata I dalam seluruh serial Sherlock Holmes menunjukkan bahwa narator adalah subjek. Narator adalah karakter utama jika merujuk kutipan Benveniste tersebut. Namun, masalah baru muncul ketika membicarakan konsep objek yang dikemukakan oleh Spivak. Spivak mengutip Foucault dan Deleuze dalam esainya, “Can the Subaltern Speak?”
 “…the oppressed, if given the chance (the problem of representation cannot be bypassed here), and on the way to solidarity through alliance politics (a Marxist thematic is at work here) can speak and know their conditions.” Spivak, 1988: 27
Kata “the oppressed” dalam kutipan tersebut menurut saya satu konteks dengan Watson dalam hubungannya dengan Sherlock Holmes. Watson seolah memiliki suara karena hubungannya yang dekat dengan Holmes dan itu pun berbicara mengenai Sherlock Holmes. Jadi, tetap saja, jika dihubungkan dengan esai Spivak, Watson berperan sebagai objek.
“It can be imagined that my close intimacy with Sherlock Holmes had interested me deeply in crime, and that after his disappearance I never failed to read with care the various problems with care the various problems which came before the public. And I even attempted, more than once, for my own private satisfaction, to employ his methods in their solution, though with indifferent success…”
Dalam kutipan tersebut, ada pula kecenderungan dari Watson untuk meniru apa yang dilakukan oleh Holmes. Kutipan tersebut menurut saya berbicara mengenai hubungan master dan apprentice antar Holmes dan Watson. Karena hubungan ini pula, semakin senjang hubungan antar Holmes dan Watson, karena ada satu yang lebih di atas yang lain. Dalam hal ini, kecerdasan adalah yang menentukan kesenjangan tersebut.
Mimikri dalam On Mimicry and Men karya Bhabha, sebagai alat untuk membentuk kembali kesadaran yang almost the same, but not quite,  sepertinya adalah strategi yang digunakan Watson untuk membentuk dirinya agar menjadi seperti Sherlock Holmes. Namun, seperti apa yang ada di dalam kata-kata “almost the same, but not quite,” Watson tidak dapat membentuk secara persis apa yang dilakukan oleh Sherlock Holmes.
Lalu, setelah hubungan-hubungan yang memiliki kesenjangan antara Holmes dan Watson, apakah hubungan ekonomi antar mereka? Setelah yang melihat kembali, ada transaksi kepentingan antar Sherlock Holmes dan John Watson. Kriminalitas dan/atau kasus sepertinya adalah komoditi dalam cerita ini, karena tanpa adanya kejahatan, tidak akan ada cerita yang berlangsung.
“From a Marxist perspective, because the survival of capitalism, which is a market economy, depends on consumerism, it [commodification] promotes sign-exchange value as our primary mode of relating the world around us.” Tyson, 2006: 62-3
 Hubungan mutualisme antara John Watson dan Sherlock Holmes menyiratkan adanya transaksi dalam hubungan mereka. Selain sebagai teman untuk berpatungan membayar uang sewa apartemen di 221 B Baker Street, Watson dan Sherlock juga berbagi kepentingan dalam menyelesaikan kasusnya. Sejak pertemuan pertama Holmes dan Watson, dalam A Study in Scarlet, karakter Holmes selaku protagonis tampak terlihat membutuhkan adanya bantuan Watson, misalnya dalam membantunya mengidentifikasi apa yang terjadi kepada korban, walaupun menurut saya karakter yang digambarkan sepandai Sherlock Holmes mungkin dapat mengidentifikasi sendiri apa yang terjadi kepada korban.
Lalu, apa yang dapat ditawarkan Holmes kepada Watson? Walaupun Sherlock Holmes digambarkan juga sebagai karakter yang kaku, aneh, dan tidak dapat bergaul, narasi-narasi yang ada dalam serial Sherlock Holmes menggambarkan Holmes sebagai tokoh yang baik. Mungkin Watson sendiri juga mendapatkan keuntungan dari hubungannya dengan Sherlock Holmes, misalnya membantunya mendapatkan cerita untuk ditulis dalam jurnalnya.
Mungkin saya akan melanjutkan analisa saya lebih jauh jika diberikan kesempatan untuk melanjutkannya semester/tahun depan.

Daftar Pustaka.

Bhabha, Homi. On Mimicry and Men: The Ambivalence of Colonial Discourse. Discipleship: A Special Issue on Psychoanalysis. Massachusetts: The MIT Press, 1984. 125-133. Diakses dari http://www.jstor.org/stable/ 778467.  Diakses pada 30/04/2012
Doyle, Sir Arthur Conan. 2007. The Complete Sherlock Holmes. New Lanark: Geddes & Grosset.
Hay, Noelle. (2001). Evolution of a Sidekick. Dilihat di http://www.sffworld.com/authors/h/hay_noelle/articles/evolutionofsidekick1.html. Diakses pada 9 Januari 2012.
Poe, Edgar Allen. (1843). The Black Cat. Dilihat di http://owl.english.purdue.edu/owl/resource/560/10/. Diakses pada 12 Januari 2012
Sartre, Jean-Paul. 1969. Being and Nothingness. London: Routledge.
Skhlovsky. Viktor. 2004. English Translation of Art as Technique. Page 15-21. Literary Theory: An Anthology. Malden. MA: Blackwell Pub.
Spivak, Gayatri C. “Can the Subaltern Speak?” Marxism and the Interpretation of Culture. Ed Cary Nelson and Lawrence Grossbergs. London: MacMillan, 1988. 24-27. Print.
Tyson, Louis. 2006. Critical Theory Today. New York: Taylor & Francis Group.


No comments:

Post a Comment