Still, while these works possess all the characteristics of
a collector’s edition, actually an immense number of copies has been printed.
This publishing decision, however, has not resulted in an economic advantage to
the collector, for the price is still beyond the reach of many fanciers’
pocketbooks.
Footnote:
Menurut saya, ini merujuk kepada Base and superstructure in
Marxist Cultural Theory. Superstruktur adalah tempat dimana masalah social dan
budaya berada, mendapat perhatian penuh dari masyarakat. Kegiatan mengoleksi
uang collector’s edition memiliki hubungan sosial dan budaya sehingga ada di
bagian ini. Namun, base atau dasar adalah kegiatan produksi, sehingga berelasi
dengan produksi uang. Jumlah yang besar dalam produksi uang tersebut tidak
berimbas kepada banyaknya keuntungan yang didapat, karena dasar dan
superstruktur tersebut tidak berimbang. Pada umumnya, manusia akan melakukan
kegiatan ekonomi untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya dengan modal
sekecil-kecilnya. Keuntungan tersebut bisa saja nilai guna. Nilai guna dari
uang collector’s edition itu kecil, sehingga tidak terlalu dibutuhkan. Jadi,
dengan harga yang tinggi, tentu saja uang tersebut tidak laku di pasaran.
Selain itu, saya juga memiliki pertanyaan sendiri. Apakah
uang collector’s edition dapat dibelanjakan atau digunakan? Saya pun belum tahu
jawabannya, namun sepertinya pertanyaan tersebut senada dengan, apakah koleksi literatur
dengan harga yang tinggi hanya dapat dikoleksi saja? Atau apakah ada nilai guna
dari koleksi tersebut?
No comments:
Post a Comment