Nama : Dina Syahrani Vionetta
NPM : 180410100199
Kelas
Naratif dan Transaksi Kepentingan dalam Karya Sir Arthur Conan Doyle
“Three times a
day for many months I had witnessed this performance, but custom had not
reconciled my mind to it. On the contrary, from day to day I had become more
irritable at the sight, and my conscience swelled nightly within me at the
thought that I had lacked the courage to protest. Again and again I had
registered a vow that I should deliver my soul upon the subject; but there was
that in the cool, nonchalant air of my companion which made him the last man
with whom one would care to take anything approaching to a liberty. His great
power, his masterly manner, and the experience which I had of his many
extraordinary qualities, all made me diffident and backward in crossing him.”
Hal
pertama yang saya lihat dari beberapa novel Sherlock Holmes karya Doyle adalah
posisi Holmes dari sudut pandang Watson selaku narator. Seperti narasi di atas,
Sherlock Holmes digambarkan sebagai sosok yang misterius dan jenius, melebihi
kecerdasan manusia di atas rata-rata. Suara narator yang banyak memposisikan
Sherlock Holmes sebagai sosok yang superior jika dibandingkan dengan dirinya,
bahkan memposisikan dirinya sebagai sosok yang tidak lebih hebat daripada
Holmes, membuat saya menyadari bahwa ada semacam perbedaan derajat atau
perbedaan kelas di antara Holmes dan Watson. Setidaknya, itulah yang
digambarkan oleh suara narator.
Watson
lebih terlihat seperti “pelengkap” dari Holmes, karena tokoh yang lebih banyak
mengambil peran dalam cerita-cerita yang dibawakan Watson adalah Holmes. Oleh
karena itu, saya melihat semacam hubungan sidekick dan protagonis. Hubungan
inilah yang saya maksud sebagai perbedaan kelas naratif di antara kedua tokoh
tersebut.
Menurut
Noelle Hay dalam artikelnya, “Evolution of a Sidekick”, sidekick dalam cerita
berfungsi sebagai semacam penghubung dari tokoh protagonis kepada pembaca, atau
tokoh yang lebih dapat dibayangkan oleh pembaca sebagai diri pembaca sendiri.
Dalam konteks ini, saya berpendapat bahwa tokoh sidekick memiliki karakteristik
yang lebih dapat berhubungan sosial daripada tokoh protagonis. Selain itu,
menurutnya juga, tokoh sidekick memberikan pemahaman kepada pembaca bahwa tokoh
protagonis di dalam suatu cerita adalah karakter yang manusiawi. Misalnya,
Sherlock Holmes, selain digambarkan sebagai karakter yang jenius, juga
digambarkan sebagai karakter yang dingin, kaku, serius, dan tidak menyenangkan.
Namun, dialog-dialog antara Watson dan Holmes dapat membuat pembaca memahami
sisi manusiawi dari Holmes.
Strategi
ini berbeda dengan strategi yang digunakan oleh Edgar Allen Poe, misalnya dalam
“The Black Cat”. Dalam The Black Cat, narator adalah tokoh utama. Karena
ketidaklaziman dari
cara berpikir dan cara menarik kesimpulan dari
tokoh utama, pembaca langsung dihadapkan dengan satu cara berpikir yang
aneh. Sepertinya hal ini mirip dengan teknik yang dikenalkan oleh Viktor
Schklovsky di Art of Poetry. Teknik ini adalah teknik defamiliarization. Teknik ini bertujuan untuk membawa pembaca ke sensasi
yang seolah-olah tidak pernah dirasakan, padahal sering tapi luput untuk
memperhatikan. Namun, di serial Sherlock Holmes, peran
sidekick justru untuk memfamiliarisasikan kasus-kasus yang terjadi.
Ada
satu diskusi di kelas mengenai Self and Desire yang menurut saya sangat
mewakili permasalahan mengenai sidekick ini. Jean-Paul Sartre dalam tulisannya,
Being and Nothingness mengemukakan dua keberadaan, yaitu keberadaan secara
sadar (being-for-itself) dan keberadaan secara tidak sadar (being-in-itself).
Jika membicarakan hubungan keberadaan dalam konteks kesadaran dan
ketidaksadaran, tentu saja ini mengacu pada pembentukan konsep diri (self).
Dalam pembentukan diri menurut Sartre tersebut, muncul satu keberadaan lagi
yang menimbulkan pertanyaan; bagaimana keberadaan diri tanpa orang lain
(others)? Konsep being-for-others ini mewakili perbedaan kelas antara sidekick
dan protagonist, yang kemudian akan saya sebutkan sebagai kelas naratif, dalam
beberapa karya dari serial Sherlock Holmes. Konsep diri dalam serial Sherlock
Holmes terbentuk dengan hubungan satu karakter dengan karakter lainnya, di mana
dalam hubungan antar karakter tersebut terdapat ketidakseimbangan. Karakter
Watson dalam serial Sherlock Holmes mengindikasikan being-for-other(s), di mana
other yang dimaksud adalah Sherlock Holmes.
Namun
permasalahan Other tersebut berbeda jika saya membahas Subject dan Other dalam
“Can The Subaltern Speak?” dari Spivak. Walaupun sedikit banyak Watson juga
membahas dirinya sendiri dalam narasi yang dibawakan dalam cerita-cerita
Sherlock Holmes, narasi tersebut tetap saja membawakan kisah Sherlock Holmes.
Hal ini senada dengan apa yang disebutkan oleh Spivak dalam esainya:
“For the ‘true’ subaltern group, whose identity is
its difference, there is no unrepresentable subaltern subject that can know and
speak for itself; the intellectual’s solution is not to abstain from
representation” (Spivak, 1988: 27)
Jadi,
ada ambivalensi mengenai pembentukan Self dan Other di dalam serial Sherlock
Holmes ini. Menurut saya, hal ini seperti dua sisi koin. Berbeda memang, namun
tidak perlu dipisahkan atau ditentukan mana yang benar dan mana yang salah.
Satu
paragraf dari bagian awal novel Sign of Four tersebut juga mengemukakan satu
ketidakjelasan, yaitu mengenai subjek dan objek. Penggunaan kata I pada narator
menjelaskan bahwa novel ini menggunakan sudut pandang orang pertama tunggal.
Ini menandakan bahwa I adalah subjek.
Konsep
diferensiasi Saussure berlaku dalam argument ini. Adanya kata “I” atau “saya”
tidak berpengaruh tanpa adanya pembeda. Pembeda tersebut dalam konteks kelas
naratif yang ada di serial Sherlock Holmes ini adalah “you” dalam dialog antar
tokoh dan “he” atau “his” dalam narasi yang dibawakan oleh Watson. Kedua
pembeda tersebut merujuk kepada Sherlock Holmes.
Sementara
itu, konsep kata I sebagai subjek ini dikemukakan oleh Emile Benveniste
sebagaimana yang dikutip Catherine Belsey dalam esainya, Constructing the
Subject: Deconstructing the Text. Menurut Benveniste yang merujuk pada konsep
diferensiasi Saussure tersebut, “Language
is possible only because each speaker sets himself up as a subject by referring
to himself as I in his discourse”.
Penggunaan
kata I dalam seluruh serial Sherlock Holmes menunjukkan bahwa narator adalah subjek.
Narator adalah karakter utama jika merujuk kutipan Benveniste tersebut. Namun,
masalah baru muncul ketika membicarakan konsep objek yang dikemukakan oleh
Spivak. Spivak mengutip Foucault dan Deleuze dalam esainya, “Can the Subaltern
Speak?”
“…the oppressed, if given the chance (the
problem of representation cannot be bypassed here), and on the way to
solidarity through alliance politics (a Marxist thematic is at work here) can
speak and know their conditions.” Spivak, 1988: 27
Kata
“the oppressed” dalam kutipan tersebut menurut saya satu konteks dengan Watson
dalam hubungannya dengan Sherlock Holmes. Watson seolah memiliki suara karena
hubungannya yang dekat dengan Holmes dan itu pun berbicara mengenai Sherlock
Holmes. Jadi, tetap saja, jika dihubungkan dengan esai Spivak, Watson berperan
sebagai objek.
“It can be
imagined that my close intimacy with Sherlock Holmes had interested me deeply
in crime, and that after his disappearance I never failed to read with care the
various problems with care the various problems which came before the public.
And I even attempted, more than once, for my own private satisfaction, to
employ his methods in their solution, though with indifferent success…”
Dalam
kutipan tersebut, ada pula kecenderungan dari Watson untuk meniru apa yang
dilakukan oleh Holmes. Kutipan tersebut menurut saya berbicara mengenai
hubungan master dan apprentice antar Holmes dan Watson. Karena hubungan ini
pula, semakin senjang hubungan antar Holmes dan Watson, karena ada satu yang
lebih di atas yang lain. Dalam hal ini, kecerdasan adalah yang menentukan
kesenjangan tersebut.
Mimikri
dalam On Mimicry and Men karya Bhabha, sebagai alat untuk membentuk kembali
kesadaran yang almost the same, but not quite, sepertinya adalah strategi yang digunakan
Watson untuk membentuk dirinya agar menjadi seperti Sherlock Holmes. Namun,
seperti apa yang ada di dalam kata-kata “almost the same, but not quite,”
Watson tidak dapat membentuk secara persis apa yang dilakukan oleh Sherlock
Holmes.
Lalu,
setelah hubungan-hubungan yang memiliki kesenjangan antara Holmes dan Watson,
apakah hubungan ekonomi antar mereka? Setelah yang melihat kembali, ada
transaksi kepentingan antar Sherlock Holmes dan John Watson. Kriminalitas dan/atau
kasus sepertinya adalah komoditi dalam cerita ini, karena tanpa adanya
kejahatan, tidak akan ada cerita yang berlangsung.
“From a Marxist perspective,
because the survival of capitalism, which is a market economy, depends on
consumerism, it [commodification] promotes sign-exchange value as our primary
mode of relating the world around us.” Tyson, 2006: 62-3
Hubungan mutualisme antara John Watson dan
Sherlock Holmes menyiratkan adanya transaksi dalam hubungan mereka. Selain
sebagai teman untuk berpatungan membayar uang sewa apartemen di 221 B Baker
Street, Watson dan Sherlock juga berbagi kepentingan dalam menyelesaikan
kasusnya. Sejak pertemuan pertama Holmes dan Watson, dalam A Study in Scarlet,
karakter Holmes selaku protagonis tampak terlihat membutuhkan adanya bantuan
Watson, misalnya dalam membantunya mengidentifikasi apa yang terjadi kepada
korban, walaupun menurut saya karakter yang digambarkan sepandai Sherlock
Holmes mungkin dapat mengidentifikasi sendiri apa yang terjadi kepada korban.
Lalu,
apa yang dapat ditawarkan Holmes kepada Watson? Walaupun Sherlock Holmes
digambarkan juga sebagai karakter yang kaku, aneh, dan tidak dapat bergaul,
narasi-narasi yang ada dalam serial Sherlock Holmes menggambarkan Holmes
sebagai tokoh yang baik. Mungkin Watson sendiri juga mendapatkan keuntungan
dari hubungannya dengan Sherlock Holmes, misalnya membantunya mendapatkan
cerita untuk ditulis dalam jurnalnya.
Mungkin
saya akan melanjutkan analisa saya lebih jauh jika diberikan kesempatan untuk
melanjutkannya semester/tahun depan.
Daftar Pustaka.
Bhabha, Homi. On
Mimicry and Men: The Ambivalence of Colonial Discourse. Discipleship: A
Special Issue on Psychoanalysis. Massachusetts: The MIT Press, 1984. 125-133.
Diakses dari http://www.jstor.org/stable/ 778467. Diakses pada 30/04/2012
Doyle, Sir
Arthur Conan. 2007. The Complete Sherlock Holmes. New Lanark: Geddes &
Grosset.
Hay, Noelle.
(2001). Evolution of a Sidekick. Dilihat di http://www.sffworld.com/authors/h/hay_noelle/articles/evolutionofsidekick1.html. Diakses pada 9 Januari 2012.
Poe, Edgar
Allen. (1843). The Black Cat. Dilihat di http://owl.english.purdue.edu/owl/resource/560/10/. Diakses pada 12 Januari 2012
Sartre, Jean-Paul.
1969. Being and Nothingness. London: Routledge.
Skhlovsky.
Viktor. 2004. English Translation of Art as Technique. Page 15-21. Literary
Theory: An Anthology. Malden. MA: Blackwell Pub.
Spivak,
Gayatri C. “Can the Subaltern Speak?” Marxism
and the Interpretation of Culture. Ed Cary Nelson and Lawrence Grossbergs.
London: MacMillan, 1988. 24-27. Print.
Tyson,
Louis. 2006. Critical Theory Today. New York: Taylor & Francis Group.