Sunday, September 29, 2013

Sepotong dari yang Berhasil Dibaca dari Constructing the Subject: Deconstructing the Text-nya Tante Catherine Belsey

Subjek dalam Ideologi.
Dalam esainya yang terkenal, “Ideologi and ideological state apparatuses”, Louis Althusser memasukkan literatur sebagai satu sarana ideologi yang berperan dalam proses mereproduksi hubungan sosial yang merupakan kondisi penting  untuk eksistensi dan keberlangsungan dari bentuk produksi kapitalis. Fiksi realis klasik sebagai literatur yang dominan di abad 19 dan diperdebatkan pada abad 20 tidak hanya merepresentasikan mitos dan versi imajiner dari hubungan sosial sebenarnya yang membangun ideologi, namun juga melibatkan pembaca, memberi identitas pada pembaca, dan memberi posisi pembaca sebagai subjek dalam ideologi.
Ideologi merupakan hubungan yang nyata dan juga semu. Nyata dalam artian ini merupakan cara di mana manusia benar-benar menjalani hubungan sosial yang mengatur eksistensinya, namun juga semu dalam konteks bahwa sebenarnya manusia tidak memiliki pemahaman penuh atas ideologi tersebut.
Ideologi sebenarnya juga tidak sepenuhnya menyajikan kebenaran, namun sepertinya hal tersebut diabaikan sehingga kita menganggap hal tersebut kebenaran sepenuhnya. Misalnya mengenai filosofi dan agama.
Ideologi tidak memiliki pencipta karena sudah langsung ada dan berlangsung, namun didukung dan diteruskan oleh apa yang disebut Ideological State Apparatus, contohnya sekolah, keluarga, hukum, dan seni. Ideological State Apparatus ini berbeda dengan Repressive State Apparatus yang bekerja dengan tekanan (polisi, tentara)
Guna ideologi adalah untuk membangun manusia sebagai subjek individual. Manusia adalah individu yang bekerja berdasarkan subjektivitas atau kesadaran diri yang merupaka sumber dari kepercayaan dan tingkah lakunya. Manusia menjadi unik, tidak dapat disamakan.
Namun, kejelasan subjektivitas sendiri dilawan oleh teori linguistik yang mengatakan bahwa adalah bahasa yang menawarkan kemungkinan subjektivitas. Kesadaran diri ditentukan oleh kekontrasan antara “I” dan “non-I”.
Subjek merupakan “fungsi” dari bahasa. Manusia menjadi subjek pembicara hanya dengan mengatakan pendapatnya. Namun, walaupun hanya sistem penanda yang memungkinkan adanya subjek pembicara, kita tidak dapat memnyebutkan subjektivitas non-pembicara, non-penanda sebagai “kesadaran silent and intuitive”. Masalahnya adalah untuk membedakan kesadaran-dalam-diri dengan kesadaran yang lain, dan juga terutama kesadaran dari diri.
Menurut re-reading Freud oleh Lacan, bahasa memungkinkah pemisahan antara kesadaran diri dengan pemaknaan, pengetahuan, dan perbuatan. Bayi diibaratkan sebagai hommelette—anak kecil sekaligus telur yang pecah dan menyebar tanpa batas ke segala arah. Anak tidak punya identitas. Selama mirror-phase, anak mengenali dirinya di kaca sebagai unit yang terpisah dari dunia luar. Perkenalannya dengan bahasa lah yang membuatnya menjadi subjek. Untuk memasuki formasi sosial, anak harus harus mematuhi order simbolik (bahasa), karena jika tidak begitu, ia akan dianggap “sakit” dan tidak dapat menjadi bagian dari masyarakat.
Subjek terkonstruksi dalam bahasa dan ideologi. Ideologi membangun peran bahasa dalam konstruksi subjek. Sebagai hasil, manusia mengenal(mengira) dirinya di mana ideologi memberi mereka identitas, memberi mereka peran sebagai subjek, memanggil dengan nama dan mengenali keberadaan mereka. Dalam kapitalisme, mereka secara bebas menukarkan tenaga dengan bayaran, dan dengan “sukarela” membeli apa yang mereka hasilkan. Subjek bukan hanya merupakan subjek gramatikal, “pusat dari inisiatif, memiliki otoritas dan tanggung jawab atas perbuatannya”, namun juga “subjected being” yang bertanggung jawab pada otoritas yang lebih tinggi. Misalnya Tuhan, raja, atasan.
Ketidaksadaran dibangun saat masuk pada order symbolic, sejalan dengan dibangunnya subjek. Masa anak masuk ke order simbolik memberi anak kebebasan dalam bersosialisasi karena anak dapat mengemukakan hasratnya dengan permintaan, namun masa tersebut juga mengkhianatinya dalam konteks ketidaktahuan mengenai hasrat mana yang tetap berada dalam ambang ketidaksadaran.
Berbicara mengenai dua sisi tersebut, perempuan berada dalam wacana yang berbeda, wacana liberal-humanis yang diidentikkan dengan kebebasan, kemandirian, rasionalitas dan sekaligus wacana yang dibangun masyarakat mengenai perempuan yang identic dengan submisif, tidak mampu, dan irasional.
Tidak ada yang menjamin bahwa sastra saja dapat menggerakkan krisis dalam formasi sosial. Namun, sastra sebagai bentuk penggunaan bahasa yang paling persuasif dapat mempengaruhi bagaimana manusia memahami dirinya dan hubungannya dengan masyarakat.

Subjek dan Teks
                Ideologi memberi peran bahasa dalam konstruksi subjek dan peranannya dalam pemahaman subjek serta menyajikan individu sebagai subjektivitas yang bebas, menyatu, dan independen. Realisme klasik menyajikan karya ideologi. Tidak hanya representasi dari subjek yang merupakan asal dari pemaknaan, pengetahuan, dan perbuatan, namun juga memberi pembaca posisi sebagai subjek.
                Puisi pada masa Romantik dan Post-Romantik mengambil tema utama subjektivitas, berbeda dengan fiksi yang lebih membahas hubungan sosial daripada subjektivitas. Peran penulis sebagai subjek mungkin hanya nama di atas cover karya. Pembaca diundang untuk menyajikan dan mengungkap “kebenaran” pada teks sebagaimana yang disampaikan penulis.
                Realisme klasik  ditandai dengan adanya “ilusionisme”, narasi yang mengarah kepada “akhir” dan “hirarki dari wacana” yang memberi kebenaran pada cerita. Realisme klasik membentuk enigma melalui ketidaksesuaian yang menimbulkan kekacauan pada budaya konvensional dan sistem penanda.
                Misalnya, pada cerita detektif, momen penutupannya selalu berupa penjelasan mengenai tersangka dan apa motif kejahatannya. Realisme klasik memberi pembaca posisi “mengetahui” yang sama dengan suara narasinya.

Mendekonstruksi Teks
                Ideologi sebenarnya inkonsisten, terbatas, kontradiktif, dan teks realis berpartisipasi dalam hal ini. Objek dari dekonstruksi adalah proses dari produksi. Bukan pengalaman pribadi dari penulis, namun mode produksinya, materi, dan penyusunannya. Tujuannya adalah mencari poin kontradiksi dalam teks. Ketika tulisan sudah penuh kontradiksi, maka tulisan menjadi plural, terbuka untuk interpretasi, tidak hanya untuk konsumsi pasif namun juga objek bagi pembaca untuk memproduksi makna.
                Dekonstruksi cenderung untuk menemukan makna pada bagian yang terpinggirkan, berbeda dengan hirarki konsep yang mengerangkai teks. Prosedurnya yaitu mengidentifiksai makna kontras pada teks, lalu mencari tanda “otherness” yang mengikis hal-hal yang benar-benar terlihat.
                Teks realisme klasik merupakan teks yang pergerakannya maju. Di akhir cerita, kebenaran akan terungkap. Namun kadang symbol-simbol mengacaukan urutan narasinya sehingga membuat teks tersebut memiliki timbal balik, bebas, dan plural. Teks yang readable bertujuan untuk sekedar dikonsumsi pembaca namun teks plural membutuhkan produksi makna melalui polyphony-nya. Dekonstruksi untuk membangun kembali teks sebagai objek plural merupakan hasil dari kritik.
                Pergerakan narasi dibagi menjadi dua: pergerakan maju dan pergerakan ke bagian tersamarkan—memperpanjang narasi dengan menunda akhir dari cerita melalui serangkaian sikap diam, memikat pembaca, jawaban dari pertanyaan muncul, berdalih.
                Karya sastra “terdiri dari perbedaan nyata dari elemen yang memberi substansi”. Literature merupakan bentuk spesifik dan tidak dapat dikurangi dari wacana, namun bahasa yang menyusunnya adalah bahasa ideologi.
                Teks realis merupakan representasi, struktur yang jelas yang mengklaim dapat menjelaskan hubungan yang jelas antar elemennya. Ketidaksadaran dalam karya dibangun dalam masuknya karya tersebut dalam bentuk sastra, dalam jarak antara kerja ideologis dan bentuk karya.
                Objek dari kritik ini bukanlah untuk mencari kesatuan dari karya, namun juga berbagai ragam dan perbedaan dari makna-makna yang memungkinkan, ketidaklengkapannya, penghilangannya, dan kontradiksinya.
                Mendekonstruksi teks berarti membukanya, mencari kemungkinan tentang kejelasannya, termasuk yang membuka ketimpangan dari ideologi yang tersirat dari teks.

Mengenai Sherlock Holmes
                Dalam kisah Sherlock Holmes yang berjudul Charles Augustus Milverton, di antara kisah utama, ada kisah lain yang dinarasikan. Narasi tersebut tidak lengkap dan dikaburkan. Sherlock Holmes kemudian mengungkap keajaiban dan misteri untuk memperjelas segala hal.
                Karya ini merefleksikan karakteristik period tersebut yang menyangkut kekuatan komprehensif dari sains. Cerita yang alurnya berjalan dari enigma hingga penyelesaian, memotret struktur teks realis klasik secara sempurna. Untuk keperluan ilmu pengetahuan, tidak ada lagi yang tidak terungkap di saat penyelesaian.
                Walaupun begitu, ada saja yang tidak dapat dijangkau oleh sains yaitu tokoh permepuan yang selalu digambarkan misterius. Sebagai contoh, dalam “The Dancing Men”, dalam kisah proses pemecahan sandi ini digambarkan ada narasi lain yang tidak jelas yang walaupun begitu membangun cerita secara keseluruhan, yaitu narasi mengenai Elsie.
                Belum ditemukan cara untuk menjelaskan seksualitas perempuan kecuali dengan cara metafora atau simbolik yang sebenarnya menyalahi realisme. Lebih signifikan lagi, penyajian perempuan sebagai tokoh yang tidak terungkap mengkontradiksi hakikat teks yang seharusnya menjadi eksplisit sehingga menggeser nilai keekplisitasan itu.

                Faktor ilmiah yang ada dalam karya Doyle ini mengisyaratkan bahwa sebenarnya ini berurusan dengan fakta, namun kenyataan bahwa ini adalah fiksi mencegah kita melihat ini sebagai fakta. Teks realis klasik berada di antara fakta dan ilusi melalui simulasi realitas yang jelas, namun tetap saja bukan kenyataan. Fiksi tidak hanya berbicara mengenai kepentingan (kecuali dalam politik dan satir). Terkenal sebagai sains, serial Sherlock Holmes terbuka pada pembacaan dekonstruktif, karena karya ini di sisi lain merupakan fiksi pula.