BAB I
Pendahuluan
1.1 Latar
Belakang
Dalam
dua novel dan satu kumpulan cerita pendek Sherlock Holmes karya Sir Arthur
Conan Doyle, yaitu a Study in Scarlet,
Sign of Four, dan the Return of
Sherlock Holmes, terdapat isu-isu mengenai kelas secara naratif yang
disampaikan oleh Dr. John Watson selaku narator dan Sherlock Holmes sebagai
tokoh yang dinarasikan. Kelas secara naratif tersebut kemudian diidentifikasi
menjadi tiga hubungan, yaitu subjek-objek, hero-sidekick, dan
master-apprentice.
Dalam
wacana psikoanalisis Lacan, subjek terbagi menjadi dua, yaitu subject of
enunciation dan subject of statement. Kedua jenis subjek tersebut ada di dalam tiga
karya Doyle, yang kemudian menjadi masalah dalam penelitian ini, karena
ketidakjelasan subjek yang kemudian menjadi ketidakjelasan objek juga. Hubungan
Self dan Other yang membentuk pasangan kelas naratif antar subjek dan objek ini
juga membantu mengungkapkan ketidakjelasan mengenai subjek dan objek yang
terdapat dalam tiga karya tersebut. Ketidakjelasan antara subjek dan objek
tersebut kemudian menjadi akar dari dua hubungan kelas secara naratif lainnya,
yaitu hero-sidekick dan master-apprentice.
Dalam
hubungan kelas naratif hero-sidekick, yang merupakan hubungan secara naratif
dalam tiga karya Sherlock Holmes, di mana kemudian Sherlock Holmes memiliki
peran sebagai hero dan Dr. John Watson sebagai sidekick, terdapat transaksi
kepentingan. Hal ini terjadi karena peran Sherlock Holmes sebagai consulting
detective yang tidak terlalu jelas dalam masyarakat, sifatnya yang kurang
menyenangkan, dan individunya sendiri sebagai seorang pemadat, tetap lebih signifikan dari Dr. John Watson
yang seorang dokter, mantan dokter tentara, dan memiliki kehidupan normal, bahkan
di cerita yang narasinya dibawakan oleh tokoh Dr. John Watson sendiri. Hal ini
menimbulkan pertanyaan, transaksi kepentingan apa yang membuat hubungan
tersebut tetap berjalan?
Satu
asumsi mengenai pertanyaan tersebut adalah karena tingkat intelejensia dari
Sherlock Holmes dalam penyelesaian kasus lebih tinggi daripada Dr. John Watson.
Hal ini mengantarkan kita kepada hubungan kelas yang terakhir, yaitu
master-apprentice selaku hubungan kelas secara ekonomis. Dalam tiga karya Doyle
yang akan dibahas, ada dialog-dialog dan narasi-narasi yang mengindikasikan
hubungan tersebut. Namun, hubungan master-apprentice antar Sherlock Holmes dan
John Watson tersebut pun, jika dikulik dari pemahaman Richard Aldrich mengenai
apprenticeship, tidak sempurna, bahkan bisa dibilang kurang memenuhi syarat.
Jadi, transaksi kepentingan yang terjadi dalam hubungan kelas ini juga menjadi
satu topik penelitian.
1.2 Identifikasi
masalah
Berdasarkan
masalah yang telah dipaparkan dalam latar belakang, diperoleh pertanyaan yang
kemudian menjadi identifikasi masalah dan acuan dalam mengerjakan (yang
mudah-mudahan jadi) skripsi ini. Masalah tersebut adalah:
1.
Bagaimana ketidakjelasan hubungan
subjek-objek tersebut menjadi akar dari hubungan kelas naratif hero-sidekick
dan master-apprentice?
2.
Apa yang membuat hubungan transaksi
kepentingan dari kelas secara naratif hero-sidekick yang berasal dari Sherlock
Holmes dan Dr. John Watson terus berlangsung?
3.
Apa yang membuat hubungan transaksi
kepentingan dari hubungan kelas secara ekonomis master-apprentice yang berasal
dari Sherlock Holmes dan Dr. John Watson terus berlangsung?
1.3 Tujuan
Penelitian
Dalam
hubungannya dengan identifikasi masalah, dapat disimpulkan bahwa tujuan
penelitian ini adalah:
1.
Memaparkan cara dari ketidakjelasan
antara subjek dan objek mengakari hubungan kelas hero-sidekick dan
master-apprentice.
2.
Menjelaskan keberlangsungan transaksi
kepentingan antar Sherlock Holmes dan Dr. John Watson dalam hubungan kelas
secara naratif hero-sidekick.
3.
Menjelaskan keberlangsungan transaksi
kepentingan antar Sherlock Holmes dan Dr. John Watson dalam hubungan kelas
secara ekonomis master-apprentice.
1.4 Kegunaan
Penelitian
Saya
berharap penelitian ini menunjukkan bagaimana satu hubungan kelas dapat
membentuk hubungan kelas lainnya serta bagaimana satu transaksi kepentingan
dapat membentuk transaksi kepentingan lainnya. Penelitian ini juga diharapkan
untuk menjadi satu sarana bagi pembaca untuk memahami cerita Sherlock Holmes
melalui sudut pandang saya. Selain itu, penelitian ini juga diharapkan untuk
menjadi bahan referensi tambahan bagi yang berkepentingan. Kegunaan lainnya, saya
berharap agar penelitian ini menjadi satu contoh alasan untuk kita memaklumi bagaimana
manusia secara tidak sadar membagi-bagi manusia-manusia lainnya berdasarkan
hal-hal tertentu walaupun telah diajarkan dalam pelajaran moral agar manusia
tidak melakukan hal tersebut.
1.5 Kerangka
Pemikiran
Rangkaian
penelitian ini dimulai dengan menemukan ketidakjelasan antar subjek dan objek
antar Sherlock Holmes dan Dr. John Watson. Ketidakkjelasan antar subjek dan
objek ini kemudian dijabarkan menjadi hubungan kelas secara naratif yaitu hero
dan sidekick dan hubungan kelas secara ekonomis yaitu master dan apprentice.
Hubungan
kelas secara naratif yaitu hero dan sidekick kemudian dipaparkan dengan
menemukan tanda-tanda yang terjadi di dalam karyanya dengan bacaan-bacaan lain
sebagai pembanding untuk menjelaskan bagaimana transaksi kepentingan antara
hero dan sidekick dibentuk.
Hubungan
kelas secara ekonomis yaitu master dan apprentice kemudian dipaparkan dengan
menemukan tanda-tanda yang terjadi di dalam karyanya dengan bacaan-bacaan lain
sebagai pembanding untuk menjelaskan bagaimana transaksi kepentingan antara
master dan apprentice dibentuk.
1.6 Metodologi
penelitian
Isu
perbedaan kelas menjadi hal yang dominan dalam penelitian ini. Hubungan
perbedaan kelas yang ada, yaitu subjek-objek, hero-sidekick, dan
master-apprentice dibahas dengan pendekatan yang berbeda, karena ketiga
hubungan tersebut sifatnya tidak sama.
Untuk
ketidakjelasan yang terdapat dalam subjek dan objek, digunakan wacana
psikoanalisis Lacan untuk mengidentifikasikan ketidakjelasan subject of
enunciation dan subject of statement yang dikemukakan oleh Dr. John Watson
sebagai narator. Penjelasan mengenai Self dan Other juga melandasi penelitian
mengenai subjek dan objek antar Sherlock Holmes dan Dr. John Watson.
Dalam
menjelaskan transaksi kepentingan antara satu hubungan kelas secara naratif
dalam penelitian ini, yaitu hubungan hero-sidekick, untuk sementara ini saya
menggunakan wacana mengenai hero dan sidekick Margery Hourihan. Kepatuhan dan
ketidakpatuhan tiga karya Doyle ini dalam membentuk wacana hero-sidekick yang
dijelaskan dalam wacana Hourihan tersebut mengantarkan kita kepada wacana
mengenai master-apprentice.
Dalam
menjelaskan transaksi kepentingan antara satu hubungan kelas secara ekonomis
dalam penelitian ini, yaitu hubungan master-apprentice, untuk sementara ini
saya menggunakan wacana mengenai pengajaran dalam hubungannya dengan
apprenticeship Richard Aldrich. Kepatuhan dan ketidakpatuhan tiga karya Doyle ini
dalam membentuk wacana master-apprentice yang dijelaskan dalam wacana Aldrich
tersebut diharapkan menjelaskan apa yang terjadi di balik transaksi kepentingan
antar dua tokoh tersebut.
Dina
Syahrani Vionetta
180410100199